Tuesday, January 15, 2013

football maestro

Sekitar seminggu lalu Tabloid BOLA menampilkan bahasan khusus berjudul "The Maestro". Edisi itu mengulas pesepakbola terbaik dalam dua dekade terakhir, dekade 1990an dan 2000an. Membatasi pada "dua dekade" merupakan pertimbangan cerdas untuk meredam hadirnya perdebatan saat menentukan "yang terbaik". Perlu diingat bahwa 'meredam' bukan 'menghilangkan sama sekali'. Arti 'meredam' dalam hal ini lebih dekat pada konotasi 'mengabaikan'. Suka tidak suka, penekanan "dua dekade" sama dengan 'pengabaian' dekade-dekade lain.

Batasan dua dekade tanpa sungkan akan menghapus nama Lev Yashin, Franz Beckenbauer, Enzo Francescoli, Johan Cruyff, hingga Diego Maradona. Nama-nama ini adalah deretan pesepakbola yang populer dan mencapai puncak keemasaannya sebelum dekade 1990an. Di satu sisi konteks waktu yang dijadikan lingkup bahasan memperkecil komparasi tak sebanding antara dua kurun waktu (dan masa keemasan) yang berbeda. Akan tetapi di sisi lain, penetapan konteks waktu terkesan mengabaikan konteks biografis nan hegemonik.

Sebagai contoh, apresiasi pada Lev Yashin sebagai salah satu kiper terhebat di dunia jelas tidak berhenti di tahun-tahun tertentu. Apresiasi akan berkembang melintas-batas waktu yang kelak menentukan hegemoni dirinya. Lev Yashin akan selalu dikenang dan diapresiasi karena teknik dan prestasinya. Ia makin hegemonik dan tak pernah mati setelah namanya diabadikan sebagai nama penghargaan untuk kiper terbaik Piala Dunia sejak tahun 1994, "Lev Yashin Award". Hegemoni simbolik yang lepas dari batas waktu tertentu.

Contoh lain adalah Franz Beckenbauer. Di masa jayanya ia dikenal sebagai pemain bertahan yang spesial. Peran spesial itu hadir karena perannya sebagai libero yang membuatnya tak hanya bermain sebagai pemain bertahan tradisional ala Italia. Peran itu memungkinkan Beckenbauer untuk menjelajahi area permainan melebihi kemampuan pemain bertahan lain. Ia punya andil mengatur dan terlibat dalam sebuah serangan. Catatan kejayaan Beckenbauer tidak akan hilang dihapus "dua dekade". Pencapaian Beckenbauer menghasilkan inspirasi bagi generasi serta dekade-dekade sesudahnya.

Berikutnya ada nama Enzo Francescoli. Pesepakbola asal Uruguay yang sulit diabaikan karena sosok inspirasionalnya bagi seorang Zinedine Zidane. Hegemoni simbolik terhadap Enzo diterapkan Zidane dalam pemberian nama anaknya. Mengingat Enzo dan Zizou bermain di posisi yang sama, tidak mungkin Zizou mengidolai pemain yang "hilang" pada dekade lain.

Dua nama lain lebih sensasional lagi: Johan Cruyff dan Diego Maradona. Keduanya adalah legenda bagi negaranya. Hegemoni Cruyff tidak akan pernah surut selama Ajax Amsterdam dan FC Barcelona belum bangkrut dan hilang dari peredaran. Kendati Cruyff tidak pernah menjuarai Piala Dunia, dirinya adalah salah satu peluru dan eksekutor dari konsep Total Football-nya Rinus Michels. Maka selama Total Football masih dibicarakan dan tidak dihapus dari sejarah sepakbola, hegemoni Cruyff pun abadi.

Terakhir, Diego Maradona. Dia dewa untuk rakyat sepakbola Argentina.Apakah ada dewa yang "hilang" di dekade tertentu?

Rangkaian baris disini bukanlah sebuah kecaman atau ketidakpuasan terhadap BOLA. Tulisan ini justru sebuah wujud apresiasi lain atas kecermatan yang teramat sangat. Kecermatan berlebihan yang malah memiliki celah untuk diisi. Celah utamanya tentu pertanyaan mengenai konteks "dua dekade".

Menyimak 11 nama yang diajukan BOLA, saya pikir cukup menyebut pemilihan 'dream team' ini berdasarkan prestasi mereka di Eropa atau Dunia. Iker Casillas, Carles Puyol, Franco Baresi, Fabio Cannavaro, Paolo Maldini, Xavi Hernandez, Lotthar Matthaeus, Luis Figo, Zinedine Zidane, Lionel Messi, dan Ronaldo Nazario da Lima. Semuanya adalah nama-nama yang familiar dengan turnamen bergengsi di Eropa dan Dunia. Maksud saya bukan mencakup keseluruhan Eropa dan Dunia, tapi 1 kejuaraan di Eropa dan 1 kejuaraaan level Dunia.

Setelah saya pikir (lagi), headline "Terbaik Dua Dekade" bisa diubah menjadi "Para Juara di Eropa dan Dunia (...)" (lanjutkan dengan selera anda untuk membatasi waktu tertentu). Konteks waktu sangat penting, sama pentingnya dengan konteks biografis. Ujungnya adalah untuk mempertanyakan kembali "terbaik apa yang bagaimana" dan bukan "terbaik kapan yang mengapa".

Tapi mungkin, lebih layak untuk tidak mencari "yang terbaik". Karena ini cuma soal "memilih".

No comments:

Post a Comment